DON’T BE “MUSLIM GAK MATCHING”

0
386

Kalo denger kata ‘matching’, apa yang kamu pikirkan, Sob? Gaya berpakaian yang serba serasi? Baju, sepatu, tas yang warnanya sama?

Yups. Kalo ngomongin ‘matching’, sering kali begitu yang terpikir. Sesuatu yang senada, seirama. Kayaknya bagus, serasi, enak dipandang.

Bandingkan dengan sebaliknya, “gak matching”. Langsung deh, kebayang penampilan yang semrawut, saling “nabrak”, gak nyaman dilihat.

Iyes! Sesuatu yang gak matching, emang bikin “sakit mata”. Cuss, pengen langsung “make over”. Tangan rasanya ‘gatal’ mau cepet ngebenerin biar nyaman dipandang.

***

Gimana kalo yang nggak matching keadaan kita sebagai muslim, Sob. Secara gitu, kudunya seorang muslim, ya tampil dengan kepribadian muslim. Tapi kok malah kepribadian lain yang ‘show up’. Seperti kerap terjadi saat ini.

Sering kali kita lihat, orang yang “casingnya” muslim, tapi kelakuannya nggak banget. Nggak ‘matching’, identitasnya dengan tingkah lakunya. Berbusana muslim, tapi perilakunya nggak Islami. Ada yang pajang foto di sosmed, monyongin bibir biar imoet menggoda. Mengumbar kemesraan dengan pasangan belum halal alias pacar. Ngumpul, aktivitas bareng campur baur dengan lawal jenis, dll. Pokoke, nggak mencerminkan kepribadian nan Islami.

Padahal Sob, sebagai muslim selayaknya kita berkepribadian Islami. Kepribadian yang kudu mengiringi kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun.

Catet, nih Sob. Kepribadian (syakhshiyah) seorang terbentuk dari pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Sebagai muslim, kita kudu berpola pikir dan berpola sikap Islam. Maka akan menjelma jadi sosok yang berkepribadian Islam.

Cara kita memikirkan sesuatu, merupakan pola pikir, Sob. Menempatkan syariat Islam sebagai landasan berpikir terhadap apapun yang kita lakukan. Menjadikan halal-haram sebagai penimbang, bukan akal kita yang serba lemah dan terbatas. Makanya kita harus ikutan ngaji. Mengkaji Islam, biar ilmu makin bertambah.

Kalau nafsiah alias pola sikap Islam, merupakan cara kita memenuhi naluri dan kebutuhan jasmani kita pakai cara Islam, ya Sob. Misal, mengendalikan rasa marah sebagai bagian dari naluri baqo (naluri mempertahankan diri). Harus pake cara Islam. Marahlah hanya pada hal yang dibenci Allah, seperti kemaksiatan dan pelanggaran syariat.

Gitu juga dalam hal makan, misalnya. Allah menyuruh kita untuk makan yang halal dan thoyib (baik). Maka, makanan yang halal aja nggak cukup, harus juga baik, nggak merusak tubuh.

Berkepribadian Islam tampak dalam lisan yg selalu berzikir pada Allah. Hanya bicara yang baik dan melakukan kebaikan. Menjadikan Alquran sebagai way of life. Yakin akan rahmat Allah, namun takut akan azab-Nya. Konsisten dalam kebenaran. Selalu menyerukan kebaikan dan mencegah kerusakan, dll.

So, teruslah belajar dan mengkaji Islam, ya Sob. Biar pemahaman Islam kita bertambah. Juga bergaul dengan teman-teman sholeh. Yang selalu mengingatkan kita untuk taat. Biar cara berpikir dan bersikap kita matching. Berpikir Islami, juga berperilaku Islami. Sehingga kita menjelma menjadi muslim yang ‘matching’, yang berkepribadian Islam. Wallahu a’lam. (em)

=========
Yunita Gustirini
(Ibu Rumah Tangga Peduli Generasi, Anggota Komunitas Revowriter Lampung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here