Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum mengobrol antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya melalui jaringan internet. Perlu diketahui dialog ini dilakukan dengan tulisan, bukan bicara secara langsung. Terima kasih.

Jawaban:

Jika komunikasi antara mereka memenuhi syarat-syarat berikut ini maka tidak masalah:

1. Hendaknya dialog tersebut membahas seputar pembahasan yang tujuannya menampakkan kebenaran dan menolak kebatilan.

2. Hendaknya dialog dilakukan dalam rangka belajar dan mengajarkan ilmu.
فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
“Bertanyalah kepada ahlul dzikri jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya:17)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Menuntut ilmu (agama) wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah; dinilai shahih oleh Al-Albani dari sahabat Anas, Ali, dan Abu Sa’id radhiallahu ‘anhum)

3. Hendaknya kedua pihak tidak keluar dari adab-adab Islam dalam menggunakan kalimat dan pemilihan ungkapan: bukan kalimat yang menimbulkan keraguan atau bukan pula kata-kata jorok, sebagaimana yang diucapakan kebanyakan pengikut hawa nafsu dan syahwat.

4. Hendaknya dialog tersebut tidak menimbulkan mudarat bagi Islam dan kaum muslimin, tetapi sebaliknya bisa menolong mereka. Agar kaum muslimin belajar tentang agamanya dengan metode baru. Sebagaimana orang-orang kafir mencurahkan waktu-waktu mereka untuk menyebarkan kebatilan, seorang muslim sudah sepantasnya mengerahkan segenap kesungguhannya untuk menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan.

5. Hendaknya keduanya percaya diri untuk tetap di atas kebenaran. Jangan sampai salah satu dari keduanya melampui batas sehingga dialog tersebut untuk membela diri (bukan membela kebenaran, pen.), karena pembelaan diri bisa menutupi kebenaran dan membela hawa nafsu. Kita berlindung kepada Allah dari hawa nafsu yang senantiasa memerintahkan kepada kejelekan.

6. Hendaknya dialog tersebut melalui media umum yang diikuti oleh sejumlah orang, bukan dialog menyepi (khusus mereka berdua saja) tanpa ada kehadiran pihak lain; karena ngobrol berdua-dua an dengan lawan jenis merupakan salah satu pintu dari sekian banyak pintu pembuka fitnah.

Jika dialog tersebut memenuhi syarat-syarat di atas dan berlangsung tanpa melihat atau ngobrol tatap muka secara langsung seperti yang dikatakan penanya, maka (dialog tersebut, pen.) tidak apa-apa dilakukan. Meskipun yang lebih utama adalah meninggalkannya dan menutup celah fitnah ini, karena terkadang perbuatan ini menyeret manusia jatuh pada perkara yang dilarang. Adapun setan mengalir di tubuh anak Adam di tempat aliran darah.
Wallahu a’lam.

Sumber: Wanitasalihah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here