Buah dari pernikahan yang penuh berkah antara Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra, yaitu lahirnya putra pertama mereka yang diberi nama Hasan. Tidak lama berselang, lahirlah putra kedua mereka yang diberi nama Husain.

Hasan dan Husain merupakan cucu kesayangan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Mereka berdua adalah penerus keturunannya. Beliau sangat menyayangi kedua cucunya itu dengan bersabda, “Ya Allah, aku mencintai keduanya. Maka. cintanah orang yang mencintai keduanya.”

Beliau juga pernah berkata tentang keduanya sambil menggendong Hasan di pundak kanan dan Husain di pundak kiri, “Kedua putraku ini adalah penghulu pemuda surga.”

Hasan dan Husain dididik dalam rumah tangga kenabian yang penuh dengan nilai-nilai terpuji. Ibunya, Sayyidah Fatimah, merupakan putri kesayangan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan merupakan salah seorang wanita utama ahli surga. Ayahnya, Ali bin Abi Thalib, merupakan anak dari paman Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dia merupakan gerbang ilmu Rasulullah Saw. Dia juga termasuk salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh belaiu.

Oleh karena itu, pantaslah jika Hasan dan Husain memiliki akhlak yang terpuji. Suatu hari, ketika sedang berada di masjid. Hasan dan Husain melihat seorang laki-laki tua sedang berwudhu, tetapi cara berwudhunya tidak benar. Lalu, laki-laki itu melaksanakan shalat. Akan tetapi, shalatnya juga tidak benar.

Hasan dan Husain ingin menasihati atau mengajari orang tersebut. Tetapi, mereka merasa risi karena orang tersebut sudah tua. Lalu, bagaimana caranya agar mereka dapat memberi tahu laki-laki itu tentang cara berwudhu yang benar. sedangkan mereka masih anak-anak?

Akhirnya, Hasan dan Husain sepakat untuk pura-pura bertengkar di depan orang itu. Kemudian, mereka meminta orang tersebut untuk memutuskan siapakah yang melakukan wudhu dengan benar, Hasan atau Husain?

“Paman. bisakah Paman membantu kami?” tanya Hasan dan Husain bersamaan.

“Apa yang bisa kubantu untuk kalian berdua?” kata orang tua itu.

Hasan, yang lebih tua daripada Husain, berkata. “Begini Paman Paman lihat sendiri. tadi kami hampir bertengkar. Dia mengatakan bahwa cara berwudhuku salah. padahal dia sendiri yang salah. Akulah yang benar!”

Husain menimpali, “Sudilah kiranya Paman menjadi penengah kami. Siapakah di antara kami yang cara berwudhunya paling benar? Dia atau aku?”

Hasan pun berwudhu, disusul oleh Husain. Orang tua itu merasa kaget. Dia melihat cara berwudhu Hasan dan Husain berbeda dengan cara berwudhunya. Akhirnya, orang tua itu pun tahu bahwa selama ini, dia berwudhu dengan cara yang tidak benar.

“Sekarang, bagaimana menurut Paman? Siapakah di antara kami yang cara berwudhunya paling benar?” tanya Hasan dan Husain.

Orang tua itu menjawab. “Demi Allah, kalian berdua telah melakukan wudhu dengan baik. Ternyata. akulah yang tidak benar dalam melaksanakan wudhu.”

Hasan dan Husain pun tersenyum puas. Tujuan mereka telah tercapai, yaitu mengajari orang tua tersebut cara berwudhu yang benar. tanpa harus menyinggung perasaannya. []

Sumber: Jalansirah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here