Ilustrasi

Dalam usaha untuk melemahkan pengaruh Islam (yang menurut Snouck merupakan faktor utama penyebab perlawanan terhadap penjajah) di tanah jajahan, Hindia Benlanda, (sebagaimana tulisan sebelumnya), Snouck membagi masalah Islam atas tiga kategori, yakni: 1. Bidang Agama murni atau ibadah; 2. Bidang sosial kemasyarakatan; dan 3. Bidang politik; dimana masing-masing bidang menuntut alternatif pemecahan yang berbeda.

Pada tulisan sebelumnya penulis sudah membahas bagaimana strategi dan arahan Snouck pada pemerintah kolonial dalam meyikapi Islam dalam bidang agama murni atau ibadah mahdhah. Pada tulisan kali ini akan dibahas bagaimana arahan Snouck dalam menyikapi katagori yang kedua, yaitu bidang Sosial kemasyarakatan.

Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah kolonial diminta memanfaatkan Adat kebiasaan yang berlaku dengan cara menggalakkan rakyat agar mendekati pemerintah Belanda. Pemerintah mempunyai tujuan untuk mempererat ikatan antara Negeri jajahan dengan negara penjajah (Asosiasi) melalui kebudayaan.

Dengan adanya asosiasi ini diharapkan orang Indonesia (Hindia Belanda) bisa menerima kebudayaan Barat (Eropa, Belanda) tanpa mengabaikan kebudayaannya sendiri (budaya lokal). Asoasiasi; adalah usaha perpaduan budaya kolonial dengan budaya jajahannya yang tidak begitu ketat, sehingga bahasa dan Agamanya tidak harus sama.

Usaha untuk membawa masyarakat Indonesia menuju asosiasi dengan masyarakat Belanda tidak terlepas dari tujuan untuk memelihara ketertiban dan keamanan di bawah kekuasaan Belanda. Yakni “damai di bawah naungan penjajah Belanda” (Pax Neederlandica). Ada sebuah impian besar bagi terbentuknya sebuah negara besar (Imperium) Belanda Raya, yang meliputi negara Belanda di Eropa utara dan Indonesia (Hindia Belanda) di Asia Tenggara.

Dua daerah yang berjauhan secara geografis ini diharapkan akan tergabung dengan mesra. Diharapkan hubungan Belanda dan Indonesia bukan atas dasar penaklukan tetapi secara sukarela orang Indonesia akan berasosiasi dengan Belanda. Dan Snouck berusaha keras untuk mewujudkan impian itu.

Snouck berkali-kali menyatakan bahwa pondasi kerajaan Belanda deperkuat oleh asosiasi orang Indonesia dengan kebudayaan Belanda. Dia berharap, dengan memberikan pelayanan Pendidikan Barat, akan menjamin loyalitas pribumi pada Belanda. Tujuan asosiasi juga untuk menghilangkan cita-cita pan Islam (Khilafah) dari segala kekuatannya. Asosiasi secara tidak langsung juga akan bermanfaat bagi penyebaran Agama Kristen, sebab penduduk pribumi yang telah berasosiasi akan lebih mudah menerima panggilan misi Kristen.

Asosiasi Kebudayaan

Prinsip politik Snouck adalah di bidang kebudayaan adalah mengusahakan agar pribumi menyesuaikan diri dengan kebudayaan Belanda. Prinsip ini merupakan upaya Belanda untuk memenangkan persaingan dengan Islam demi keberlangsungan penjajahannya.

Sebagai seorang etnolog yang memiliki pengalam riset di berbagai daerah Snouck mengembangkan suatu gagasan tentang perlunya mendorong “Adat-Adat” lokal (local wisdom). Snouck memandang bahwa upaya untuk mengurangi militansi dan fanatisme keAgamaan orang-orang Islam adalah dengan mengembangkan Adat sebagai istrumen rivalitas (musuh) hukum Islam. Pemerintah kolonial (baca: penjajah) harus memanfaatkan Adat kebiasaan yang berlaku dan membantu menggalakkan rakyat agar tetap berpegang pada Adat tersebut.

Snouck memandang bahwa upaya untuk mengurangi militansi dan fanatisme keAgamaan orang-orang Islam adalah dengan mengembangkan Adat sebagai istrumen rivalitas (musuh) hukum Islam.

Buat Snouck, pengembangan Adat dan budaya akan membatasi meluasnya pengaruh ajaran Islam, terutama yang berkaitan dengan hukum dan peraturan. Konsep untuk membendung dan mematikan pertumbuhan pengaruh hukum Islam adalah dengan “Theorie Receptie”. Snouck berupaya agar hukum Islam menyesuaikan dengan Adat istiadat dan kenyataan politik yang menguasai kehidupan pemeluknya.

Menurut Snouck, Islam jangan sampai mengalahkan Adat istiAdat. Hukum Islam akan dilegitimasi serta diakui eksistensi dan kekuatan hukumnya jika sudah diadopsi (Receptie) menjadi hukum Adat. Proses ini membenturkan hukum Islam dan Adat yang pada tingkat tertentu menjadikan hukum Islam sebagai hukum yang inferior.

Theorie Reseptie berkaitan dengan kerangka awal pemikiran Christiaan Snouck Hurgronje untuk mepertentangkan hukum Adat dan hukum Islam. Pada teori ini dia mendukung hukum Adat dan kaum Adat untuk melenyapkan pengaruh Islam dan hukum Islam di Hindia Belanda. Teori resepsi sengaja dibangun dan dibela sekuat tenaga sehingga “menjadi” kerangka idealis yang “paling tepat” untuk pelaksanaan hukum di Hindia Belanda.

Teori ini sebenarnya untuk menggulingkan pengaruh hukum Islam. Ketika hukum Islam berhasil dikalahkan oleh hukum Adat, maka menurut kepentingan resepsi, hukum Adat akan dimatikan dan semua diganti hukum Eropa.[]

Sumber: Seeramedia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here