Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- pernah ditanya :

“Tentang seorang suami yang “bersabar” dengan tidak berhubungan intim dengan istrinya, sebulan dan dua bulan. Apakah si suami berdosa ? dan apakah dituntut atas hal tersebut ?”.

Beliau -rahimahulloh- menjawab :

1. “Wajib atas suami untuk berhubungan intim dengan istrinya secara ma’ruf.

2. Itulah hak istri dari suaminya yang paling ditekankan.

3. Kewajiban tersebut lebih besar dibanding memberinya kebutuhan makan.

4. Sehingga berhubungan intim hukumnya wajib.

5. Ada yang berpendapat bahwa kadar wajibnya adalah setiap 4 bulan.

 

Adapula yang mengatakan, disesuaikan dengan kebutuhan istri dan kemampuan suami, sebagaimana si suami memberikan makanan sesuai kebutuhan si istri dan kemampuan suami.

Inilah pendapat yang paling tepat dari dua pendapat tersebut.”

سئل شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله تعالى :

عن الرجل إذا صبر على زوجته الشهر والشهرين لا يطؤها ، فهل عليه إثم أم لا ؟ وهل يطالب الزوج بذلك ؟ .

فأجاب :

يجب على الرجل أن يطأ زوجته بالمعروف ، وهو من أوكد حقها عليه ، أعظم من إطعامها ، والوطء الواجب قيل : إنه واجب في كل أربعة أشهر مرة ، وقيل : بقدر حاجتها وقدرته ، كما يطعمها بقدر حاجتها وقدرته ، وهذا أصح القولين

Majmu Fatawa : 32/271.

Sumber: Ruangmuslimah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here