Pertanyaan :

Bagaimana menyikapi seorang isteri yang nyata-nyata membangkang atau menolak dalam hal dienul Islam, tapi isteri mengakui atau takut kepada Alloh, apakah kesabaran ada batasnya? Mohon nasehat Ustadz.

Jawaban :

Pertama: Penanya hendaknya bersyukur, karena Alloh telah memberi hidayah berupa menyenangi dien yang mulia dan indah ini. Bacalah Surat al-Hujurot [49]: 7, agar anda bertambah senang.

Kedua: Suami harus menyadari bahwa hidup di dunia ini penuh dengan cobaan, dicoba dengan istri yang suka membangkang sebagaimana dijelaskan di dalam Surat at-Taghobun [64]: 14. Akan tetapi, suami hendaknya gembira dengan ujian ini karena dengan ujian ini—jika bersabar—kita mendapat pahala, insya Alloh.

Bukankah Nabi Nuh dan Luth ‘alaihimassalam diuji dengan istri dan anaknya? Baca Surat at-Tahrim [66]: 10.

Ketiga: Nasehatilah istri dengan baik, karena dien Islam adalah nasehat, sebagaimana Nabi bersabda (yang artinya): “Nasihatilah wanita itu dengan nasehat yang baik.” Nasihati dia dengan lembut, karena wanita lemah akalnya dan mudah putus asa. Dia dijadikan dari tulang rusuk yang paling bengkok, mudah patah, bila diperlakukan dengan keras dia akan gampang minta cerai,

Sebagaimana penjelasan hadits yang shahih. Jelaskan kebaikan Islam, jelaskan bahwa suami wajib menasehati istrinya sekaligus ini sebagai tanda kasih sayangnya. Jelaskan bahwa suami ingin hidup bahagia dengan istrinya di dunia dan di akhirat.

 

Keempat: Tanyailah dia: “Apa yang dimaksud takut kepada Alloh?” Jika jawabannya benar, tanyakan: “Mengapa tidak dilaksanakan?” Jika jawabannya salah, betulkan. Bacakan kepada istri kitab karangan ahli ilmu, bahwa takut kepada Alloh bukan hanya perkataan semata, namun dengan mendekatkan diri kepada Alloh, melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Kelima: Jangan lupa berdoa kepada Alloh, terutama pada sepertiga malam yang akhir. Berdoalah sambil menangis memohon kepada Alloh agar sang istri diberi petunjuk, dan bangunkan dia agar menjalankan pula sholat malam, barangkali dia mau sholat.

Di antara contoh doanya:

“Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. al-Furqon [25]: 74)

Keenam: Benar ada batasnya, sampai kapan? Langkah awal, nasihati dia dengan kata-kata yang lembut yang menyadarkan diri. Jika tidak bisa, tinggalkan tidur bersama dia. Jika belum berhasil, cambuklah di bagian kakinya—jangan kepalanya—dengan cambukan yang tidak merusak badannya. Jika belum berhasil, datangkan dua hakim dari kedua orang tua untuk meminta pertimbangan. Jika mertua tidak mendukung, bahkan membela anaknya, Bismillah, tawakkal kepada Alloh ceraikanlah dia. Tentunya hal ini (cerai) jika suami sudah menimbang lebih jauh tentang maslahat dan mafsadatnya, dan jika sudah cerai segeralah menikah agar cepat hilang peristiwa yang lalu, tentunya bila mampu.

Allah Ta’ala berfirman (artinya)

(…. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz (durhaka)-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. an-Nisa’ [4]: 34)

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Alloh memberi taufiq kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. an-Nisa’ [4]: 35)

Akhirnya, semoga Alloh memberi hidayah kepada kita semua.[]

Sumber: Ruangmuslimah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here