Kampung Lembur Salawe Ciamis

Sejak dulu, sebuah dusun di Ciamis mempertahankan jumlah kepala keluarga yang menghuninya. Jumlahnya 25 keluarga, tak boleh kurang maupun lebih.

Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ada satu wilayah yang dihuni oleh 25 tugu atau kepala keluarga (KK). Nama daerah itu disebut Lembur Salawe, yang terletak di Dusun Tunggulrahayu, RT 24, RW 09, Desa Cimaragas, Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis.

Kondisi itu sudah dipertahankan sejak zaman dulu. Percaya tidak percaya, masyarakat masih meyakini akan mitos yang ada. Di mana bila lebih dari 25 tugu maka akan ada yang sakit dan sampai meninggal menimpa salah satu dari penghuni lembur atau kampung tersebut. Sehingga bagi warga yang akan menambah rumah atau ada keluarga tambahan harus di luar lembur atau kampung.

Lembur Salawe ini terletak di Jalan alternatif Cimaragas menuju Kota Banjar. Tidak jauh dari Lembur Salawe terdapat situs Sang Hyang Maharaja Cipya Permana Prabudigaluh Salawe yang merupakan raja dari Kerajaan Bojong Galuh Salawe.

Sesepuh Lembur Salawe Latif Adiwijaya yang biasa disapa Abah Latif menuturkan asal-usul Lembur Salawe berada di bekas Kerajaan Galuh Salawe yang sudah tilem atau hilang. Kemudian dilakukan pembukaan wilayah atau babad alas, saat itu sesuai dengan namanya Salawe hanya ada 25 tugu atau 25 kepala keluarga.

Sesepuh Lembur Salawe Latif Adiwijaya
Sesepuh Lembur SalaweLatifAdiwijaya

“Jadi kalau lebih dari 25 akan ada yang meninggal. Juga tidak kurang dari 25 tugu. Kalau tidak percaya silakan saja dicoba. Intinya kami di sini mempertahankan yang sudah menjadi tradisi sejak dulu,” kata Abah Latif saat ditemui di sanggarnya, Rabu (14/3/2018).

Menurut Abah Latif, bagi warga yang ingin membangun rumah baru atau ada keluarga baru harus ke luar daerah. Di luar Lembur Salawe ada beberapa tempat yang dijadikan tempat perpindahan, lokasinya tidak jauh dari Lembur Salawe. Antara lain Babakan Cikondang, Pajaten, Pasurudan, Cipancur dan Pancawarna.

“Dulu bangunan rumah di Lembur Salawe ini berbentuk rumah panggung. Namun seiring dengan perkembangan zaman diganti dengan rumah semi permanen dan beberapa sudah permanen,” katanya.

 Situs Sang Hyang Maharaja Cipya Permana Prabudigaluh Salawe
Situs Sang Hyang Maharaja Cipya Permana Prabudigaluh Salawe

Abah Latif menjelaskan Lembur Salawe pernah kosong karena hampir semua warga menderita sakit. Hal itu terjadi lantaran Kepala Desa saat itu melanggar norma adat yang ada di Lembur Salawe, bahkan merusak cagar budaya.

Salah seorang warga, Ilah (53) mengaku tradisi mempertahankan 25 tugu tersebut sudah berlangsung sejak dulu. Menurutnya, bila ada yang melahirkan biasanya ada warga yang meninggal. Atau bila ada keluarga yang pindah ke Lembur Salawe juga akan ada warga yang meninggal.

“Sejak dulu di Lembur Salawe ini hanya ada 25 tugu,” kata Ilah.

Nah, di Lembur Salawe ini juga terdapat tradisi Misalin yang digelar satu tahun sekali menjelang bulan suci Ramadan. Hal itu dilakukan sebagai persiapan untuk mensucikan diri memasuki bulan puasa.

“Sampai saat ini tradisi Misalin terus kami laksanakan dan akan kami pelihara sampai kapanpun,” ujar Abah Latif.[Detiktravel]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here