Foto: Abu Sahl Al-Anshari rahimahullah

Umurnya masih belia, wajahnya tampan, cerah dan penuh senyuman. Memang muda umurnya, tapi karakternya seperti orang dewasa. Dia adalah seseorang yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk risalah Allah dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tidak seperti pemuda pada umumnya, kesehariannya berkutat dengan ribat dan operasi bersama mujahidin. Teman setianya adalah kalashnikov yang selalu mendampinginya kemanapun pergi.

Ketika datang tawaran menikah, ia menolak karena merasa dengan menikah waktunya akan tersita untuk istrinya kelak. Maka, ia kembali ke medan jihad dan berharap dinikahkan dengan hurun’in di akhirat nanti. Pemuda tampan ini menjawab tanpa keraguan dan pada akhirnya ia menggapai impiannya menjadi syuhada. Pemuda itu adalah Abu Sahl Al-Ansari.

Kisah Sebelum Kesyahidan

Beberapa bulan sebelum kesyahidannya, pasukan Nushairi beraktivitas cukup intens di suatu wilayah di Suriah. Para mujahid pun siap siaga dengan kemungkinan apapun yang terjadi. Seorang Abu Sahl jarang mengambil waktu istirahat di saat-saat seperti itu. Pernah suatu kali ia menghabiskan tiga hari tanpa istirahat, tidur, makan dan minum saat ribat di sebuah parit tanpa kembali ke kamp mujahidin. Hal itu dilakukan karena menjaga perbatasan wilayah sembari menunggu serangan musuh yang tidak bisa diprediski kapan datangnya.

Abu Sahl kembali ke kamp mujahidin hanya untuk berganti pakaian dan memenuhi hajat saja. Setelah itu ia kembali melanjutkan menjaga perbatasan. Ia selalu teringat pada firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran : 200)

Minggu-minggu terakhir menjelang kesyahidannya, pasukan syiah Nushairi membombardir mujahidin dengan persenjataan berat. Seluruh teknologi persenjataan yang mereka miliki dikerahkan untuk melenyapkan para tentara Allah. Hingga digambarkan serangan ganas itu bisa mengubah rambut seseorang yang hitam mendadak menjadi beruban dan menaikkan jantung hingga ke tenggorokan. Abu Sahl tetap bersabar dan tenang, kematangan jiwanya membuat dirinya untuk tetap berada di tempat dia berdiri.

Serangan yang begitu ganas menghancurkan apapun yang ada. Peluru-peluru menembus tubuh mujahidin, satu per satu tumbang karena luka yang parah. Bangunan, tanah, pohon ikut rusak karena terjangan serangan yang membabi buta. Sebagian besar tubuh para mujahid berlumuran darah setelah serangan berjalan beberapa jam.

Setelah serangan agak mereda, komandan memerintahkan untuk mengevakuasi mujahid-mujahid yang terluka. Proses evakuasi tentu tidaklah berjalan mudah karena serangan tetap terjadi walau tak terlalu deras. Saat itu Abu Sahl berada di garis depan pertempuran. Dia pun segera memastikan para mujahidin lainnya di garis belakang yang masih mampu untuk bertempur untuk maju ke garis depan. Hal itu dilakukan untuk melindungi evakuasi para mujahidin yang terluka.

Maka, sontak seluruh mujahidin membalas serangan pasukan syiah Nushairi dengan kalashnikov, senapan mesin PK, granat tangan dan pekikan takbir yang membahana memecah langit. Tujuan mereka hanyalah mencapai hidup mulia atau menggapai mati syahid. Abu Sahl bertempur dengan semangat yang mengagumkan. Ia mengikat kepalanya dengan syal seperti sahabat Anshar Samak bin Kharasyah, atau lebih dikenal dengan nama Abu Dujanah ketika perang Uhud. Sebelum kontak senjata terjadi teman-temannya menyebut syal yang diikatkan di kepala Abu Sahl dengan “The Bandana of Death.”[Kiblat]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here