Apa yang terpikirkan jika mendengar kata “Hijrah” ?

Mungkin jika mendengar kata hijrah kita akan langsung terpikir kalau hijrah itu berpindah tempat, hijrah itu merubah penampilan menjadi lebih syar’i atau hijrah itu adalah proses memperbaiki diri dari akhlak yang kurang baik menjadi jauh lebih baik.
Sudah bukan hal yang asing lagi ditelinga kita bukan? Bahkan hijrah sudah berubah menjadi trend bagi sebagian remaja perempuan. Beragam alasan yang terucap jika ditanya mengapa memilih untuk berhijrah. Ada yang bilang karena panggilan hati, karena sakit atau bahkan ada yang bilang karena mengikuti trend saja.

Dear ..
Coba kita perhatikan sekeliling kita, sekarang sudah banyak perempuan-perempuan yang tiba-tiba merubah penampilannya menjadi lebih syar’i. Alhamdulillah, kata itu yang terucap ketika melihat pemandangan indah tersebut. Tapi ternyata ada saja kata-kata miring yang terucap dari setiap orang.
Loh bukannya itu hal biasa ya? Lantas mengapa mesti dipermasalahkan?
Yups betul sekali, setiap keputusan pasti akan ada pro dan kontra. Apalagi ini perkara hijrah, pasti akan banyak komentar-komentar yang dapat melukai hati. Tapi tidak sedikit pula yang senang dan menyemangati untuk terus memperbaiki diri 

Tapi disini permasalahannya adalah ketika seseorang mengambil keputusan untuk berhijrah ternyata masih banyak yang belum bisa lepas dari kebiasaan buruknya dahulu. Memang segala sesuatunya butuh proses dan tidak semudah membalikan telapak tangan. Secara penampilan mungkin sudah berubah. Misalnya dulu masih mengenakan pakaian ketat plus celana jeans sekarang sudah berkerudung dan bergamis. Tapi itu saja tidak cukup, karena hijrah bukan hanya sekedar merubah penampilan saja!
Perempuan-perumpuan yang mengaku telah berhijrah kadang masih sering bercanda dengan lawan jenis, khalwat, ikhtilat bahkan sampai pacaran. Astagfirullah.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Katanya sudah hijrah!

Dear ..
Hal-hal tersebut mungkin saja bisa terjadi. Itu semua dikarenakan kurangnya pemahaman tentang ilmu agama, lingkungan yang masih menerima maksiat, menolak atau belum bisa menerima peraturan maupun hukum-hukum Allah yang melarang segala bentuk kemaksiatan dan sebagainya. Untuk bisa lepas dari kebiasaan buruk kita dulu perlu adanya niat yang tulus kalau hijrah kita ini bukan untuk sekedar mencari simpati, memperbanyak teman-teman shalihah yang selalu mengingatkan kita kepada Allah, hindari segala macam kemaksiatan, sering-sering berkumpul dimajelis-majelis ilmu dan dekati Dia sang pemilik segalanya.

Berat memang, perlu banyak pengorbanan dan keikhlasan untuk melepas semua kebiasaan buruk kita dahulu meskipun kita tahu itu adalah kemaksiatan. Tapi percayalah dalam haditspun dikatakan : “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu kerena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik”. (HR.Ahmad).

Wallahu A’lam Bishawab

Ditulis oleh Dila Wulansari

Sholihah Artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here