Seminar Indef

Kebijakan pembangunan infrastruktur diprediksi hanya dirasakan di masa depan. Di sisi lain utang negara terus meningkat dan tidak ada produktivitas dalam pertumbuhan sektor-sektor ekonomi.

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance), M Rizal Taufikurrahman mengatakan hutang yang meningkat akibat pembangunan infrastruktur justru tidak menghasilkan produktivitas yang diharapkan. Meskipun ada sebagian sektor yang berdampak positif dalam pembangunan infrastruktur yakni di bidang konstruksinya.

“Ternyata fenomena (peningkatan) infrastruktur justru menyebabkan orang cenderung malah meningkatkan jumlah konsumsi atau belanja, akhirnya harga komoditas terus menaik,” katanya dalam seminar INDEF bertajuk ‘Menggugat Produktivitas Utang’ di Jakarta, Rabu (21/03/2018).

Rizal juga mengatakan bahwa peningkatan infrastruktur justru menurunkan ekspor, sebaliknya impor meningkat. Sehingga alokasi utang yang kian besar akan berdampak pada sektor-sektor lain.

“Pemerintah selama ini tidak memperhitungkan peningkatan efektivitas transportasi distribusi dalam pembangunan infrastruktur. Jadi tidak ada ketenangan dalam kebijakan pemerintah membangun infrastruktur,” tuturnya.

Dia lalu mencontohkan nasib negara-negara yang mengalami kondisi demikian, antara lain Pakistan, Sri Lanka, Angola dan Zimbabwe.

“Mereka tidak bisa bayar utang. Utamanya Angola justru mengganti mata uangnya. Bahkan yang lebih sadis lagi Sri Lanka tidak bisa membayar utang malah memberikan pelabuhannya,” ujarnya.

“Seharusnya (ketika) infrastruktur dibangun, efesiensi harusnya terjadi. Tetapi di Indonesia tidak, justru malah seluruh harga komoditas ikut naik,” ungkapnya.[]

Sumber: Kiblat.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here