Ilustrasi

Beberapa pekan terakhir di media sosial viral beredar video dan berita tentang sikap yang tidak patut yang dilakukan wali murid menghajar seorang guru di Sulawesi karena tidak terima anaknya ditegur guru tersebut (www.jawapos.com, 2018/02/14). Belum kering kejadian tentang nasib guru Budi yang akhirnya meninggal dengan pecah batang otaknya karena aksi brutal muridnya (www.jawapos.com 2018/02/02), hal ini tentu menjadi catatan bagi dunia pendidikan kita. Benar-benar kejadian yang membuat miris, mengingat bahwa guru sebagai orang tua kita di sekolah yang wajib kita hormati. Adab murid terhadap guru pun menjadi komoditas langka yang abai diperhatikan. Alih-alih ada perlindungan payung hukum untuk guru, apresiasi untuk pengabdian mulianya sebagai pendidik, acap kali dipandang sebelah mata dan disudutkan posisinya sebagai penyebab kenakalan anak didiknya dan berakhir dengan penjara. Beban guru kini semakin berat.

Adapun tanggung jawab orang tua dalam membersamai anak-anak zaman now juga semakin bertambah. Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dituntut mampu berperan besar dalam proses mendidik anak-anaknya. Kebanyakan orang tua sudah disibukkan pertarungan di kancah kehidupan dengan mencari materi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga yang semakin sulit dan kebanyakan orang tua berpandangan jika ingin memiliki anak sholeh maka masukkan saja ke pesantren. Kenyataannya pesantren kini tidak bisa menjamin alumninya menjadi anak sholeh dan iman yang benar dikarenakan gelombang sekularisasi (pemisahan kehidupan dari agama) yang semakin deras. Pembentukan jiwa anak rapuh karena tidak dididik dengan iman yang mantap,tidak memahami apa itu hidup,siapa yang menciptakan hidup(darimana kita berasal), untuk apa hidup ini ada, harus bagaimana menjalani hidup dan bagaimana nanti jika sudah mati. Pribadi yang rapuh dan orang tua yang yang kurang peduli atau tidak paham menjadikan kenakalan anak menjadi massif.

Sekolah sebagai institusi pendidikan utama juga tidak bisa menjalankan fungsinya. Sekolah saat ini tidak mampu membentuk manusia berkepribadian utuh yang menjadikan manusia taat kepada Allah SWT. Kurikulum pendidikan yang ada kering dari nilai-nilai keimanan dan ketaatan. Tujuan sekolah sekedar mencetak manusia berpengetahuan dalam nilai akademis.

Masyarakat yang individualis, liberalis, materialis dan hedonis turut berperan memperburuk kondisi generasi. Berbeda dengan masyarakat zaman dulu yang tidak enggan mengingatkan anak tetangga atau temannya. Dulu pada tahun 90an ketika ada seorang remaja menginap di rumah teman, tidak ada kekhawatiran dari orang tua karena kemaksiatan belum merajalela. Jika anak-anak sedang bermain bersama pun juga saling mengingatkan waktu mandi,sholat maupun batas waktu boleh bermainnya. Bagaimana dengan kondisi sekarang? Sungguh jauh berbeda, anak-anak sampai larut kadang dibiarkan bermain gadget, sedikit bahkan nyaris tidak ada yang saling mengingatkan waktu sholat ketika bermain di luar dan para remaja banyak berkeliaran di tempat-tempat umum bebas berduaan dengan non-mahram. Nilai-nilai sekulerisme telah melahirkan liberalisme termasuk kebebasan bertingkah laku. Jaminan HAM melalui Undang-Undang Perlindungan anak oleh Negara sepenuhnya memberikan anak kebebasan yang tidak boleh diintervensi oleh orang tua. Negara yang sekuler kapitalistik ini tidak membangun manusia untuk bertaqwa. Kesalahan terbesarnya adalah tidak diterapkannya Syariah Islam sebagai sistem hidup. Sehingga hal ini berperan besar menciptakan kehidupan yang tidak stabil.

Dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang anak gemar melakukan kemaksiatan, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Orang tua yang kurang peduli atau tidak paham dengan Islam
2. Sekolah sekuler yang hanya mencetak anak cerdas akademis tanpa membentuk keimanan anak didik
3. Kondisi Masyarakat yang individualis, liberalis, materialis dan hedonis
4. Serta Negara yang tidak mengatur manusia dengan Syariah Islam
Hal ini berpotensi melahirkan anak-anak yang secara umum tidak sehat jiwanya yang mudah melakukan maksiat dan kenakalan. Bahkan meningkatkan kriminalitas yang semakin mengerikan. Individu yang tidak bertaqwa, masyarakat yang tidak bertaqwa dan Negara yang tidak sesuai dengan sistem Islam merupakan sinergi negative untuk membunuh karakter Islam pada anak-anak kita.

Bertaqwa haruslah disertai dengan berfikir cerdas, taqwa merupakan pangkat tertinggi yang jauh lebih hebat dari sekedar jenderal berbintang 1,2,3,4,5 atau berapapun. Posisi yang menjamin bahagia dunia akhirat yaitu diridhoi Allah SWT. Bertaqwa itu menjauhi maksiat dan menunaikan kewajiban yang telah diperintahkan Allah SWT, termasuk menjauhi akhlak buruk yang merupakan buah dari iman. Berfikir Cerdas berarti beriman dan mampu beramal sholeh. Sosok generasi bertaqwa yang cerdas pasti berakhlak mulia.

Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak harus banyak belajar dan memahami tentang aqidah dan syariah, sehingga bisa berperilaku yang benar sesuai al-quran dan as-sunah dan menjadi teladan yang baik bagi anak. Kebangkitan peradaban Islam yang sudah dijanjikan Rasulullah sejak 15 abad yang lalu bermula dari rumah. Rumah harus memiliki peran yang lebih besar dibanding sekolah. Mari kita berfikir, bagaimana pertanggungjawaban kita dihadapan Allah sebagai orang tua kelak diakhirat jika kita tidak mendidik dengan Islam? Tugas kita hari ini adalah melahirkan kembali sosok generasi bertaqwa dan berkepribadian Islam, baik pola pikir dan pola sikapnya dengan Islam. Sehingga terbentuk generasi sebagaimana para sahabat Nabi SAW dan generasi umat terdahulu yang tidak diragukan keimanannya.(*)

Ditulis oleh Yuli Wulandari (pengurus rumah belajar Ar-Royan (TPA) dan Ibu rumah tangga)

Sholihah Artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here