Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi*

Pendahuluan
Makalah ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pendapat-pendapat ulama-ulama Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) seputar kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah) atau berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah). Yang dimaksud dengan kesatuan Khilafah adalah adanya Khilafah yang satu (tunggal) bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Sedangkan yang dimaksud berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah) adalah kondisi adanya lebih dari satu orang imam atau khalifah sebagai kepala negara Khilafah.

Istilah kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah) dan berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah) sesungguhnya memiliki makna yang sama, ibarat dua sisi mata uang. Karena memang telah terdapat dalil-dalil syar’i yang membicarakan dua sisi tersebut, yaitu dalil yang mewajibkan kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah) di satu sisi, dan dalil yang melarang berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah) di sisi lain. (Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Al-Dumaiji, Al-Imamah Al-’Uzhma ‘Inda Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah, hlm. 564-566; Mahmud Abdul Majid Al-Khalidi, Qawa’id Nizham Al-Hukm fi Al-Islam, hlm. 313-320; ‘Abdul ‘Aziz Al-Kayyath, Al-Nizham Al-Siyasi fi Al-Islam, hlm. 134-136).

Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika para ulama telah menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian satu sama lain untuk makna yang sama. Sebagian ulama dalam kitab-kitabnya menggunakan istilah kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah), seperti Mahmud Abdul Majid Al-Khalidi dalam kitabnya Qawa’id Nizham Al-Hukm fi Al-Islam (hlm. 313-dst). Semakna dengan istilah kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah) ini adalah istilah kesatuan negara (wihdat al-daulah) yang digunakan oleh Syekh Muhammad Ihsan Sammarah dalam kitabnya Al-Nizham Al-Siyasi fi Al-Islam (hlm. 58). Sedang sebagian ulama lainnya menggunakan istilah berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah), seperti Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Al-Dumaiji dalam kitabnya Al-Imamah Al-’Uzhma ‘Inda Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah (hlm. 558-dst) dan Shalah al-Shawi dalam kitabnya Al-Wajiz fi Fiqh Al-Khilafah (hlm. 75-77).

Jumhur Ulama Sunni Mewajibkan Kesatuan Khilafah (Wihdat Al-Khilafah)

Jumhur (mayoritas) ulama Sunni baik golongan ulama yang terdahulu (salaf) maupun ulama yang terkemudian (khalaf), telah mewajibkan kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah). Dengan perkataan lain, jumhur ulama Sunni tersebut telah berpendapat bahwa berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah) adalah kondisi yang tidak diperbolehkan menurut syariah Islam. Memang ada sebagian ulama Sunni yang membolehkan berbilangnya imam, namun pendapat ini adalah pendapat yang syadz (nyeleneh, menyempal) alias keluar dari pendapat mainstream (arusutama) sebagai pendapat yang benar (haq). (Mahmud Abdul Majid Al-Khalidi, Qawa’id Nizham Al-Hukm fi Al-Islam, hlm. 314; Shalah al-Shawi, Al-Wajiz fi Fiqh Al-Khilafah, hlm. 75.).

Berikut ini sebagian ungkapan (‘ibaarah) original dari ulama-ulama Sunni yang telah mewajibkan kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah) atau dengan kata lain yang melarang berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah);

1.Imam Mawardi (w. 450 H) dalam kitabnya Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah berkata :

إذا عقدت الإمامة لإمامين في بلدين لم تنعقد إمامتهما ، لأنه لا يجوز أن يكون للأمة إمامان في وقت واحد ، وإن شذ قوم فجوزوه

“Jika diadakan akad Imamah (Khilafah) bagi dua orang Imam (Khalifah) di dua negeri, maka tidaklah sah akad Imamah bagi keduanya, karena tidak boleh ada bagi umat Islam dua orang Imam (Khalifah) pada waktu yang sama, meskipun ada satu kaum yang berpendapat syadz (menyimpang) lalu membolehkan hal tersebut [adanya dua Imam].” (Imam Mawardi, Al-Ahkam Al-Sulhaniyyah, hlm. 9).

Dalam kitabnya yang lain, yaitu Adab Al-Dunya wa Al-Diin, Imam Mawardi berkata :

وذهب الجمهور إلى أن إقامة إمامين في عصر واحد لا يجوز شرعا

“Jumhur ulama berpendapat bahwa mengangkat dua orang Imam (Khalifah) pada waktu yang sama hukumnya tidak boleh menurut syara’.” (Imam Mawardi, Adab Al-Dunya wa Al-Diin, hlm. 150-151).

2.Imam Ibnu Hazm (w. 456 H) berkata dalam kitabnya Al-Muhalla :

ولا يحل أن يكون في الدنيا إلا إمام واحد

“Dan tidak halal ada di dunia ini kecuali satu orang Imam (Khalifah) saja.” (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, Juz IX, hlm. 360).

Dalam kitabnya yang lain, yaitu Maratib Al-Ijma’, Imam Ibnu Hazm berkata :

واتفقوا أنه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا إمامان ، لا متفقان ولا مفترقان ، ولا في مكانين ولا في مكان واحد

“Dan mereka [para ulama] telah sepakat bahwa tidak boleh ada dua orang Imam (Khalifah) pada kaum muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia, baik keduanya bersepakat maupun bertentangan, baik keduanya berada di dua tempat yang berbeda maupun berada di satu tempat yang sama.” (Ibnu Hazm, Maratib Al-Ijma’, hlm. 144).

3. Qadhi As-Simnaani (w. 499 H) dalam kitabnya Raudhat Al-Qudhah wa Thariq An-Najah berkata :

لا يجوز أن يتعدد الإمام في العصر

“Tidak boleh ada lebih dari satu orang Imam [Khalifah] pada waktu yang sama.” (Ali bin Muhammad As-Simnani, Raudhat Al-Qudhah wa Thariq An-Najah, Beirut : Mu`assasah Ar-Risalah, Cet. II, 1984, Juz I, hlm. 29).

4. Imam Nawawi (w. 676 H) berkata dalam kitabnya yang berjudul Syarah Al-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim :

اتفق العلماء على أنه لا يجوز أن يعقد لخليفتين في عصر واحد …

“Para ulama telah sepakat (ittifaq) bahwa tidak boleh ada akad untuk dua orang khalifah pada waktu yang sama…” (Imam Nawawi, Syarah Al-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, Juz XII, hlm. 233).

Dalam kitab Mughni Al-Muhtaj, karya Imam Syamsuddin Al-Khathib Al-Syirbini (w. 977 H), diriwayatkan perkataan Imam Nawawi dari kitab Minhaj al-Thalibin sebagai berikut :

ولا يجوز عقدها لإمامين فأكثر ولو بأقاليم ولو تباعدت لما في ذلك من اختلاف الرأي وتفرق الشمل

“Tidak boleh akad Imamah (Khilafah) bagi dua orang Imam (Khalifah) atau lebih meskipun mereka berada di wilayah-wilayah [yang berbeda] atau berada di dua tempat yang berjauhan, sebab yang demikian itu adalah perpecahan pendapat dan terpecahnya kesatuan.” (Imam Syamsuddin Al-Khathib Al-Syirbini, Mughni Al Muhtaj, Juz IV, hlm. 132).

5. Imam Syihabuddin Al-Qaraafi (w. 684 H) dalam kitabnya Al-Dzakhiirah berkata :

إذا عقدت لاثنين ببلدين لم تنعقد إمامتهما لامتناع إمامين في وقت فقد قال صلى الله عليه وسلم : إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما

“Jika diadakan akad [Imamah/Khilafah] bagi dua orang [Imam] di dua negeri, maka tidak sah akad Imamah [Khilafah] keduanya, karena ada larangan adanya dua orang Imam [Khalifah] pada waktu yang sama, sesuai sabda Rasulullah SAW,’Jika dibai’at dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (Imam Syihaabuddin Al-Qaraafi, Al-Dzakhiirah, Dar Al-Gharb Al-Islami, Cet. I, 1994, Juz X, hlm.26).

6. Imam Al-Iiji (w. 756 H) dalam kitabnya Al-Mawaaqif fi ‘Ilm Al-Kalaam berkata :

لا يجوز العقد لإمامين في صقع…

“Tidak boleh akad [baiat] bagi dua orang Imam [Khalifah] di satu wilayah yang sama…” (Imam Abdurrahman bin Ahmad Al-Iiji, Al-Mawaaqif fi ‘Ilm Al-Kalaam, Beirut : ‘Aalam Al Kutub, hlm. 400).

7. Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam kitabnya Tafsir Ibnu Katsir berkata :

فأما نصب إمامين في الأرض أو أكثر فلا يجوز لقوله عليه الصلاة والسلام : من أتاكم وأمركم جميع يريد أن يفرق بينكم فاقتلوه كائنا من كان
“Adapun mengangkat dua orang Imam (Khalifah) atau lebih di muka bumi, maka hal itu tidak boleh, berdasarkan sabda Rasulullah SAW,”Barangsiapa yang datang kepada kamu sedang urusan kamu terhimpun [di bawah satu Imam], sedang yang datang itu hendak memecah belah di antara kamu, maka bunuhlah dia siapapun juga dia itu.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir [Tafsir Al-Qur`an Al-’Azhim], Juz I, hlm. 222).

8. Imam Taftazani (w. 791 H) dalam kitabnya Syarah Al-‘Aqa`id Al-Nasafiyyah berkata :

وغير جائزهو نصب إمامين مستقلين يجب إطاعة كل منهما على انفراد لما يلزم في ذلك من امتثال أحكام متضادة

“Adalah tidak boleh mengangkat dua orang Imam (Khalifah) yang masing-masing berdiri sendiri (independen) satu sama lain yang masing-masingnya sama-sama wajib ditaati. Karena hal itu akan mengharuskan ketaatan pada hukum-hukum yang bertentangan.” (Imam Taftazani, Syarah Al-‘Aqa`id Al-Nasafiyyah, hlm. 158).

9. Imam Qalqasyandi (w. 821 H) berkata dalam kitabnya yang berjudul Shubh Al-A’sya fi Shina’at Al-Insya :

لا يجوز نصب إمامين في وقت واحد

“Tidak boleh mengangkat dua orang Imam (Khalifah) pada waktu yang sama.” (Imam Qalqasyandi, Shubh Al-A’sya fi Shina’at Al-Insya, Juz IX, hlm. 288)

10. Imam Al-Sya’rani (w. 973 H) dalam kitabnya Al-Mizan Al-Kubra berkata :

لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ وَقْتٍ وَاحِدٍ فِيْ جَمِيْعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لاَ مُتَّفِقَانِ وَلاَ مُفْتَرِقَانِ

“Tidak boleh kaum muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam (Khalifah), baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” (Imam al-Sya’rani, Al-Mizan Al-Kubra, Juz II, hlm. 157).

11. Syekh Muhammad Al-Khudhori (w. 1345 H) dalam kitabnya Itmam Al-Wafa` fi Sirat Al-Khulafa` :

وكذلك أجمع المسلمون على أنه لا يصح أن يكون لهم في عصر واحد خليفتان

“Demikian pula, kaum muslimin telah bersepakat (ijma’) bahwa tidaklah boleh kaum muslimin mempunyai dua orang Khalifah (Imam) pada waktu yang sama…” (Syekh Muhammad Al-Khudhori, Itmam Al-Wafa` fi Sirat Al-Khulafa`, hlm. 20).

12. Syekh Abdurrahman Al-Jaziri (w. 1360 H) dalam kitabnya Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah berkata :

إِتَّفَقَ اْلأَئِمَّةُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ أَنَّ اْلإِمَامَةَ فَرْضٌ وَأَنَّهُ لاَ بُدَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ شَعَائِرَ الدِّيْنِ وَيُنْصِفُ الْمَظْلُوْمِيْنَ مِنَ الظَّالِمِيْنَ وَعَلىَ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ وَقْتٍ وَاحِدٍ فِيْ جَمِيْعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لاَ مُتَّفِقَانِ وَلاَ مُفْتَرِقَانِ

”Telah sepakat para imam [yang empat, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad] –semoga Allah merahmati mereka– bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu; dan bahwa tak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam (Khalifah) yang menegakkan syiar-syiar agama dan melindungi orang-orang yang dizhalimi dari orang-orang zhalim; dan bahwa tak boleh kaum muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam (Khalifah), baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” (Syekh Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, Juz V, hlm. 366).

14. Syekh Muhammad Al-Amiin Al-Syanqithi (w. 1393) dalam kitabnya Adhwa` Al-Bayan fi Iidhah Al-Qur`an bi Al-Qur`an berkata :

قول جماهير العلماء من المسلمين إنه لا يجوز تعدد الإمام الأعظم بل يجب كونه واحدا

“Pendapat jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan kaum muslimin, bahwa tidak boleh berbilang Imam [ada lebih dari satu orang Imam/Khalifah], bahkan wajib Imam itu satu orang saja.” (Muhammad Al-Amiin Al-Syanqithi, Adhwa` Al-Bayan fi Iidhah Al-Qur`an bi Al-Qur`an, Juz I, hlm. 83).

Dari kutipan-kutipan pendapat ulama di atas, jelaslah bahwa jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan ulama Sunni berpendapat bahwa berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah) adalah kondisi yang tidak diperbolehkan menurut syariah Islam. Dengan kata lain, jumhur ulama tersebut telah mewajibkan kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah). Kesimpulan ini dengan tepat dinyatakan oleh Qadhi As-Simnaani (w. 499 H) dalam kitabnya Raudhat Al-Qudhah wa Thariq An-Najah sebagai berikut :

الإجماع من الجمهور على أن الإمام إنما يكون واحدا في العصر

“Telah terdapat ijma’ (kesepakatan) dari jumhur (mayoritas) ulama bahwa Imam [Khalifah] itu hanya boleh satu orang pada waktu yang sama.” (Ali bin Muhammad As-Simnani, Raudhat Al-Qudhah wa Thariq An-Najah, Beirut : Mu`assasah Ar Risalah, Cet. II, 1984, Juz I, hlm. 62).

Dalil Pendapat Jumhur Ulama

Kewajiban kesatuan Khilafah (wihdat al-Khilafah) didasarkan dalil syar’i yang kuat, yaitu As-Sunnah dan Ijma’ Shahabat (kesepakatan para sahabat Nabi SAW). Di antara dalil dari As-Sunnah, adalah sabda Nabi SAW :

إذا بويع لخليفتين، فاقتلوا الآخر منهما

“Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR Muslim, Shahih Muslim, hadits no 1853).

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim memberi syarah (penjelasan) hadits tersebut dengan berkata :

إذا بويع الخليفة بعد خليفة، فبيعة الأول صحيحة يجب الوفاء بها و بيعة الثاني باطلة يحرم الوفاء بها…وهذا هو الصواب الذي عليه جماهير العلماء
“Jika dibaiat seorang khalifah setelah khalifah [sebelumnya], maka baiat untuk khalifah pertama hukumnya sah yang wajib dipenuhi. Sedang baiat untuk khalifah kedua hukumnya batal yang haram untuk dipenuhi…Inilah pendapat yang benar yang menjadi pendapat jumhur ulama.” (Imam Nawawi, Syarah An-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, Juz XII, hlm. 231).

Adapun dalil Ijma’ Shahabat mengenai haramnya lebih dari satu khalifah (ta’addud al-a`immah) bagi umat Islam, terwujud pada saat pertemuan para shahabat di Saqiifah Bani Saa’idah untuk membicarakan pemimpin umat pengganti Rasulullah SAW yang wafat. Pada saat itu, seorang shahabat dari golongan Anshar, yaitu Al-Hubab Ibnul Mundzir mengusulkan,”Dari kami seorang pemimpin, dari kalian seorang pemimpin.” Abu Bakar Shiddiq RA kemudian membantah perkataan Al-Hubab Ibnul Mundzir tersebut dengan berkata :

أنه لا يحل أن يكون للمسلمين أميران

“Sesungguhnya tidaklah halal kaum muslimin mempunyai dua orang pemimpin.” (HR Al Baihaqi, Sunan Baihaqi, Juz VIII, hlm. 145).

Perkataan Abu Bakar Shiddiq itu didengar oleh para shahabat dan tak ada satu orang pun shahabat Nabi SAW yang mengingkarinya, sehingga dengan demikian terwujudlah Ijma’ Shahabat bahwa umat Islam tidak boleh dipimpin kecuali oleh satu orang Imam (Khalifah) saja. (Mahmud Abdul Majid Al-Khalidi, Qawa’id Nizham Al-Hukm fil Al-Islam, hlm. 316; Ihsan Sammaarah, Al-Nizham As-Siyasi fi Al-Islam [Nizham Al-Khilafah Al-Rasyidah], hlm. 57).

Pendapat Yang Membolehkan Berbilangnya Imam

Sebagian ulama ada yang membolehkan berbilangnya Khalifah/Imam (ta’addud al-a`immah). Mereka mengatakan jika kedua Imam berada di dua tempat yang berjauhan, maka boleh mengangkat dua Imam.

Pendapat ini berdalil dengan sejumlah dalil-dalil akli (hujjah ‘aqliyyah), di antaranya sebagai berikut :

Pertama, mengangkat dua khalifah boleh jika ada hajat (kebutuhan) untuk mengangkat dua khalifah. Ini merupakan pendapat Abu Ishaq Isfarayini dan Imam Haramain.

Kedua, mengangkat dua khalifah boleh jika terdapat masaafah (jarak) yang jauh di antara dua khalifah. Ini pendapat Imam Haramain.

Ketiga, mengangkat dua khalifah boleh jika di antara dua Khalifah terdapat pemisah alami (haajiz thabi’iy) seperti laut, atau ada musuh di antara keduanya, yang tidak mampu dikalahkan oleh salah satu dari keduanya. Ini pendapat Abdul Qahir Al-Baghdadi. (Mahmud Abdul Majid Al-Khalidi, Qawa’id Nizham Al-Hukm fil Al-Islam, hlm. 313; Jamal Ahmad Sayyid Jaad Al-Marakbi, Al-Khilafah Al-Islamiyyah Bayna Nuzhum Al-Hukm Al-Mu’ashirah, hlm. 65-67).

Namun pendapat yang membolehkan berbilangnya Imam (ta’addud al-a`immah) ini tidak dapat diterima dengan 3 (tiga) alasan sebagai berikut :

Pertama, pendapat yang membolehkan lebih dari satu khalifah (ta’addud al-a`immah), hanya didukung oleh dalil akli, bukan dalil syar’i, baik ayat Al-Qur`an maupun Al-Hadits. Padahal masalah yang dibahas adalah hukum syar’i yang dalilnya wajib berupa dalil syar’i, bukan dalil aqli. Dalam pembahasan hukum syar’i, dalilnya wajib dalil syar’i, bukan dalil aqli, sesuai dengan definisi hukum syar’i itu sendiri, yaitu sebagai berikut:

الحكم الشرعي هو خطاب الشارع المتعلق بأفعال العباد

“Hukum syar’i adalah khithaab (seruan/firman) dari Allah sebagai Pembuat Syariah yang berkaitan dengan perbuatan para hamba.” (Taqiyuddin Al-Nabhani, Al-Syakshiyyah Al-Islamiyyah, Juz III (Ushul Fiqih), hlm. 37).

Yang dimaksud Khithaabus Syaari’ adalah dalil syar’i, yaitu apa-apa yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan apa-apa yang ditunjukkan oleh keduanya, yaitu Ijma’ dan Qiyas, bukan yang lain. Jadi dalil akli tidaklah dapat dianggap sebagai Khithaabus Syaari’ yang menjadi dalil syar’i dari suatu hukum syar’i.

Kedua, pendapat yang membolehkan lebih dari satu khalifah, pada sebagiannya, khususnya pendapat Al-Juwaini, Al-Isfaroyini, dan Al-Baghdadi, sebenarnya menunjukkan hukum dalam kondisi darurat (rukhsah), seperti adanya lautan atau musuh yang memisahkan dua khalifah. Jadi pendapat tersebut bukan menunjukkan hukum asal (‘aziimah).

Artinya, sebenarnya pendapat yang membolehkan lebih dari satu khalifah itu, mengakui hukum asal (‘aziimah) yang ada, yaitu wajibya kesatuan Khilafah (wihdatul Khilafah) dan haram Khilafah lebih dari satu (berbilang). Syekh Al-Marakby menganalisis pendapat tersebut dengan berkata :

فالأصل عدم جواز التعدد فإذا استدعت الضرورة ذلك جاز..فالتعدد محظور أصلا أباحته الضرورة فإذا زالت الضرورة حرم التعدد

“[Pendapat yang membolehkan berbilangnya Khilafah tersebut] hukum asalnya sebenarnya tak membolehkan berbilangnya Khilafah. Jika kondisi darurat mengharuskan berbilangnya Khilafah, barulah boleh ada lebih dari satu Khilafah. Jadi berbilangnya Khilafah hukum asalnya haram, yang dibolehkan oleh kondisi darurat. Maka jika kondisi darurat ini lenyap, haram hukumnya Khilafah lebih dari satu.” (Jamal Ahmad Sayyid Jaad Al-Marakbi, Al Khilafah Al Islamiyyah Bayna Nuzhum Al-Hukm Al-Mu’ashirah, hlm. 65-66)

Ketiga, pendapat yang mewajibkan kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah), didukung oleh dalil-dalil syar’i yang sangat kuat dari As Sunnah dan Ijma’ Shahabat, seperti telah diuraikan di atas.

Kesimpulan
Dari seluruh uraian dia atas dapat diambil 2 (dua) kesimpulan penting :

Pertama, jumhur (mayoritas) ulama Sunni baik golongan ulama yang terdahulu (salaf) maupun ulama yang terkemudian (khalaf), telah mewajibkan kesatuan Khilafah (wihdat al-khilafah). Dengan perkataan lain, jumhur ulama Sunni tersebut telah berpendapat bahwa berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah) adalah kondisi yang tidak diperbolehkan menurut syariah Islam.

Kedua, pendapat yang membolehkan berbilangnya imam (ta’addud al-a`immah) adalah pendapat yang lemah dan syadz, yang hanya didukung oleh dalil akli, dan tidak didukung oleh dalil-dalil syar’i yang kuat dan mu’tabar, yaitu Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Wallahu a’lam.

= = = =
*Makalah disampaikan dalam Pengajian Bapak-Bapak, pada hari Senin 26 Maret 2018, di Musholla Al-Husna, Sury
odiningratan, Kec. Mantrijeron, Yogyakarta.
**Dosen Ushul Fiqih STEI Hamfara Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here