Oleh: Bini Arta Utama

Begitu banyak amalan telah berlalu, lantas yakinkah Allah Ta’ala menerima amal-amal tersebut?

Hendaknya tanyakan pada hati kecilmu, sudahkah amalan yang dilakukan atas dasar ilmu? Sudahkah amalan yang dilakukan sesuai dengan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan? Tidaklah akan diterima suatu amalan apabila tidak berdasar pada ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka amal itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).
Hendaknya tanyakan pada hati kecilmu, sudahkah mengikhlaskan amal itu hanya untuk Rabb ‘Azza wa Jalla? Ikhlas itu berat, saudariku. Mengapa sangat yakin amal akan diterima? Tauladan kita, para Nabi saja dengan kerendahan hati mereka, masih berdo’a mengharap amalnya diterima.
Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 127).

Tidaklah amalan-amalan yang telah dikerjakan itu merupakan buah dari kehebatan seseorang. Seseorang tidaklah mempunyai jasa atas amalan-amalan yang dikerjakannya. Hanya Allah saja yang mampu menggerakkan seseorang untuk beramal sebab taufik yang diberikan-Nya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata,
“Allahlah yang mengilhamkan hamba-Nya untuk bertaubat kepada-Nya, dan Dia sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya itu, meskipun taubat hamba itu tidak lepas dari karunia dan kemurahan-Nya. Allahlah yang mengilhamkan ketaatan dalam diri hamba-Nya dan Dia pula yang membantunya melakukannya, lalu membalasnya dengan pahala; dan semua itu tidak lepas dari karunia dan kemurahan-Nya.” (Fawaidul Fawaid (terjemah), hal. 35)

Para salafus shalih yang beramal dalam diam, merasa begitu takut amalnya tidak diterima dan merasa sangat sedikit dalam beramal.
Dari Ibnu Syaudzab diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Tatkala sakaratul maut menjemput Abu Hurairah, beliau menangis. Orang-orang bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Beliau menjawab, ‘Jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya aral rintangan. Sementara tempat kembali, mungkin ke surga, atau mungkin ke neraka’.” (Meneladani Akhlak Generasi Terbaik, hal 29).

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu merasa bekal yang ia punya, yakni amal di dunia amatlah sedikit. Ia pun tak yakin tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka. Siapakah Abu Hurairah? Abu Hurairah ialah sahabat yang banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tercatat lebih dari 5000 hadits telah ia riwayatkan. Hadits-hadits itu pun masih kekal hingga kini, dihafal dan diamalkan oleh banyak manusia. Berapa banyak pahala akan mengalir ke Abu Hurairah berkat jasanya yang luar biasa tersebut? Tentu amat banyak. Namun, rasa khasyah beliau amat besar, sehingga merasa bekal menuju akhirat amat sedikit. Maasya Allah.

Bandingkan dengan kita yang kualitas dan kuantitas amalnya tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan beliau, terkadang merasa sangat yakin amal diterima. Merasa tenang-tenang saja dengan amal yang belum pasti bernilai atau tidaknya di sisi Allah.

Maka, saudariku, jangan kau tertipu dengan amalmu. Takutlah amalmu tak diterima karena tak terpenuhinya ikhlas dan ittiba’. Takutlah dengan berbagai hal yang akan merusak amalmu dan menjadikannya tidak bernilai di sisi Allah. Sertakan rasa harap, panjatkan do’a agar amal diterima oleh Allah Ta’ala.

Jangan kau tertipu dengan amalmu, merasa sudah shalat lima waktu, shalat rawatib, shalat tahajud, shalat dhuha, namun tak khusyuk kau jalankan shalatmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ صَلَاتَهُ؟ قَالَ: ” لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا وَلَا خُشُوعَهَا

“Sesungguhnya orang mencuri yang paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya.” Sahabat bertanya, “Bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan rukuk, sujud, dan khusyuknya.” (HR. Ahmad, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami, no. 986).

Jangan kau tertipu dengan amalmu, merasa sudah puasa Ramadhan, puasa sunnah Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh, namun masih kau bermaksiat di dalamnya. Betapa banyak dari manusia yang mudah terjerumus kepada dosa lisan, pun begitu pada saat berpuasa.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلُ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ عَزَّوَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta sewaktu berpuasa maka Allah tidak menerima puasanya meskipun dia telah meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari 4/99).
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ الصِّيَامِ مِنَ الْأَكْلِ الشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ الّغْوِ وَالرَّفَتِ، فَإِنْ شَابَكَ أِحَدٌ أَوْ جَهَلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنّي صَا ئِمٌ، إِنِّي صَائٌمٌ

“Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah: ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa’.” (HR. Ibnu Khuzaimah 1996, Al-Hakim 1/430-431, sanadnya shahih).
Jangan kau tertipu dengan amalmu, merasa sudah banyak melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, namun tak kau tadabburi maknanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah raihanah, baunya sedap, tetapi rasanya pahit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sekedar membaca Al-Qur’an tanpa memahami dan mentadabburi dapat dilakukan oleh orang munafik maupun orang mukmin. Para ulama mengatakan, memahami dan mentadabburi Al-Qur’an semestinya membuahkan keimanan dan keimanan adalah amalan terbaik.

Semoga kita dapat senantiasa meningkatkan kualitas amal sehingga menyebabkan diterimanya amal kita di sisi Allah Ta’ala.
Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi :
Fawaidul Fawaid (Terjemah), Ibnu Qayyim al-Jauziyah, tahqiq: Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, cetakan Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.
Meneladani Akhlaq Generasi Terbaik, Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil dan Baha’uddin bin Fatih Uqail, cetakan Darul Haq, Jakarta.
Membaca Al-Qur’an untuk Direnungkan dan Diamalkan, Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc, https://rumaysho.com/3641-membaca-al-qur-an-untuk-direnungkan-dan-diamalkan.html

muslimah.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here