Oleh Rahmah Athyefah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Impor buat indonesia saat ini seolah-olah menjadi suatu keharusan, mulai impor bahan makanan pokok sampai urusan tenaga kerja.

Buktinya setelah melakukan impor beras, garam sampai tenaga kerja asing. Wacana yang sedang berkembang, bahwa indonesia akan melakukan impor untuk tenaga pengajar di perguruan tinggi. Mudahnya tenaga kerja asing masuk ke indonesia adalah dengan adanya PERPRES No. 20 Tahun 2018 tentang penggunaan tenaga kerja asing.

Alasan dari Kemenristekdikti Muhammad Nasir melakukan impor dosen ini adalah, Indonesia memang memerlukan banyak dosen asing untuk mengajar karena jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 4500 perguruan. “Kalau kita seribu (dosen asing ke Indonesia) saja, masih sangat kurang,” (katadata 11/4/18).

Saat ini dosen asing yang mengajar di indonesia saja ada sekitar 30 orang. Jumlah tersebut di rasa belum cukup oleh pemerintah, sehingga harus melakukan impor dosen.

Dosen asing yang di impor fokus pada dua bidang yakni, Sains dan Teknologi. Karena melihat indonesia banyak mencontoh riset-riset luar negeri, sehingga dari dua bidang tadi bisa di kembangkan ke dalam bidang lainnya.

Persoalan yang di hadapi sebenarnya bukan pada kekurangan tenaga pengajar atau dosen, tapi lebih pada pemberdayaan manusianya. Serta pengaturan terhadap sistem pendidikan yang ada. Kampus yang kita lihat saat ini, hanyalah sebuah komersialitas untuk ajang bisnis semata. Bukan pada orientasi mutu pendidikan itu sendiri. Sehingga kualitas individu jauh dari harapan.

Impor dosen asing tentu akan memberikan dampak bagi kepribadian dan pemahaman individu itu sendiri. Karena seorang pengajar tidak hanya pintar dalam arti pengetahuannya saja, tapi kepribadiannya juga menjadi cerminan.

Dan cerminan kemajuan sebuah negara bukan di lihat menurut cara pandang orang luar atau barat. Ketika kita melihat corak kehidupan yang ada di luar negeri, khususnya di amerika ataupun korea tidak sejalan dengan kemajuan sains maupun teknologi yang mereka miliki. Karena di negara tersebut angka kriminalitas dan bunuh diri sangat tinggi.

SDM yang di miliki indonesia, sebenarnya lebih dari cukup. Buktinya adalah Prof. Dr. BJ. Habibie yang nama dan karyanya tidak hanya di kenal oleh indonesia, tapi lebih luasnya di kenal oleh dunia, bahkan karya-karya beliau banyak di nikmati dan di pelajari oleh orang luar. Dan Prof. Khoirul Anwar adalah seorang penemu dan pemilik paten teknologi 4G. Serta masih banyak ilmuwan-ilmuwan indonesia yang lain.

Impor dosen sebenarnya bukan solusi untuk kemajuan indonesia, yang harus di lakukan adalah, dengan memberikan ruang dan kesempatan bagi individu-individu yang memiliki kemampuan untuk terus melakukan inovasi. Dan mendorong para intelektual dengan membuka laboratorium, untuk melakukan penelitian dan eksperimen. Sehingga karya mereka bisa berkembang. Dan bukan malah tenaga ahlinya di ambil oleh orang luar.

Karena tidak cukup hanya memiliki kemampuan, tanpa adanya dukungan negara yang memberikan fasilitas. Seperti yang pernah terjadi di masa kekhilafahan Abbasiyah. Dan di kenal dengan sebutan ” The Golden Age “. Pada masa itu lahir para ilmuwan-ilmuwan terkenal seperti Al Khawarizmi, Al Kindi, Ibnu Sina serta masih banyak ilmuwan Islam lainnya. Hasil karyanya masih menjadi rujukannya orang-orang barat hingga saat ini.

Harusnya yang di lakukan oleh pemerintah bukan impor, tapi memperbaiki tatanan kehidupan yang mengatur manusia atau sistemnya, sehingga dari sistem tadi akan menjadikan individu atau masyarakatnya berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas diri. Dan hal itu akan terwujud ketika adanya peran yang optimal dari negara.

Dan tujuan pendidikan bukan hanya, selesai kuliah langsung kerja. Tetapi lebih kepada makna sebenarnya yaitu menghasilkan orang yang baik, sebagaimana yang telah di tetapkan oleh syariat Islam.

Pertama, Membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian islam secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam.

Kedua, menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli dalam jumlah yang berlimpah di setiap bidang kehidupan, yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat dan peradaban. Sehingga membuat negara itu menjadi negara terdepan, kuat dan berdaulat.

Hal penting yaitu menjadikan Islam sebagai sebuah ideologi yang akan mendominasi dunia, seperti di masa keemasannya. Caranya dengan mengambil Islam untuk di jadikan aturan dalam semua lini kehidupan. Islam sebagai sebuah ideologi yang tidak hanya mengatur dalam aspek ibadah ritual semata.

[Sholihah artikel]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here