Ilustrasi

Apakah khitbah bisa diputus? bagaimana hukumnya jika salah satu pihak memutuskan khitbah?

Khitbah merupakan suatu yang sudah lumrah terjadi dikalangan masyarakat ketika menuju proses pernikahan. Khitbah atau meminang adalah suatu keinginan seseorang untuk menikahi orang yang disenanginya, kemudian memberitahukan keinginan tersebut kepada pihak wali perempuan, baik secara langsung maupun melalui perantara keluarganya.
Proses mengkhitbah atau meminang biasanya disertasi dengan memberi sebagian mahar kepada pihak perempuan, namun ada juga yang dengan memberikan hadiah-hadiah. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat atau memperkokoh hubungan yang barusaja dibentuk antara pihak peminang dan juga pinangannya. Secara syara’ khitbah hukumya boleh (mubah), hal ini dasarkan pada dalil Al-Qur’an Surah Al-Baqarah : 235

و لا جناح عليكم فيما عرضتم فيه من خطبة النساء او أكننتم في أنفسكم علم الله انكم ستذكرونهن و لكن لا تواعدوهن سرا
“Dan tidak ada dosa bagimu untuk meminang wanita-wanita ini dengan sindiran yang baik atau kamu menyembunyikanya (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu, Allah akan mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka secara rahasia”. (Qs. Al-Baqarah : 235).

Khitbah berfungsi sebagai gerbang menuju pernikahan, dan didalamnya terdapat aktifitas atau proses saling mengenal yang dinamakan ta’aruf. Ta’aruf yang dilakukan setelah proses pengkhitbahan ini dapat dilakukan lebih jauh lagi dengan cara yang ma’ruf. Maka apabila dalam proses ta’aruf tersebut ada salah satu pihak yang menilai pasangannya kurang baik, sehingga muncul ketidakcocokan diantara mereka, maka ia berhak atau boleh membatalkan khitbah tersebut. Hal ini adalah sesuatu yang wajar dilakukan, dengan tanda kutip alasan untuk melakukan pemutusan atau pembatalan khitbah tersebut rasional dan jelas. Dan juga dilakukan dengan cara yang ma’ruf pula, sehingga tidak menyalahi aturan syara’ dan tidak menyakiti hati salah satu pihak.

Hal yang paling penting diperhatikan ketika pemutusan khitbah ini adalah alasan mengapa calon suami atau istri melakukan pemutusan tersebut, harus didasari dengan alasan yang rasional. Misalnya jika khitbah dibatalkan hanya karena calon istri mencurigai calon suaminya, nantinya ketika sudah menikah akan diselingkuhi dan tidak dinafkahi sebagaimana mestinya, namun hal ini tanpa disertai alasan yang jelas dan logis, juga belum ada bukti yang menguatkannya. Hal ini merupakan anggapan yang berlebihan dan merupakan perbuatan yang keliru, karena hanya didasarkan pada sikap skeptis salah satu pihak saja yang tidak rasional. Namun dari sini dapat kita simpulkan bahwasannya hukum membatalkan atau pemutusan khitbah adalah boleh (mubah). Hal ini sesuai dengan hadits berikut :

عَنْ الْأَعْرَجِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ
يَأْثُرُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا وَلَا يَخْطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَنْكِحَ أَوْ يَتْرُك ( صحيح البخاري (16 / 110 ))
“Dari Al A’raj ia berkata; Abu Hurairah berkata; Satu warisan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian perasangka, sebab perasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara. Janganlah seorang laki-laki meminang atas pinangan saudaranya hingga ia menikahinya atau meninggalkannya.” (H.R.Bukhari)Sumber hadits : https://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/04/14/hukum-membatalkan-khitbah/

Dari hadits ini kita dapat tahu bahwa lafadz ”hingga ia menikahinya atau meninggalkannya” menunjukkan bahwasannya orang yang telah mengkhitbah (meminang) wanita punya dua pilihan sesudah pinangannya diterima, yaitu antara melanjutkan menuju akad atau meninggalkan pinangannya tersebut. Meninggalkan disini berarti membatalkan atau pemutusan secara sepihak. Pembatalan atau pemutusan pinangan (khitbah) dalam hadits ini tidak disertai lafadz yang disandarkan pada Rasulullah SAW yang menegaskan sebuah ancaman dosa atau mungkin sekedar celaan bagi orang yang membatalkannya. Oleh karena itu membatalkan atau memutuskan khitbah hukumnya mubah, bukan makruh apalagi haram.

Kebolehan membatalkan khitbah ini bersifat mutlak, karena pada lafadz hadis di atas tidak diikat kondisi tertentu untuk menunjukkan kebolehan pembatalan tersebut. Jadi, pembatalan atau pemutusan pinangan (khitbah) baik dengan alasan maupun tanpa alasan hukumnya tetap mubah dan tanpa ada celaan. Alasan pembatalan pinangan tidak mempengaruhi status hukum dan tidak dipertimbangkan.

Jadi, keputusan membatalkan pernikahan baik dari pihak lelaki maupun pihak wanita akibat putusnya khitbah dengan alasan apapun tidak dapat disalahkan secara hukum syara’, dengan kata lain hukumnya memang boleh-boleh saja, namun secara sosial karena kita hidup bermasyarakat dan setiap orang memiliki hak prerogatif masing-masing dan sifat dasar individu masing-masing, dan juga karena adanya norma yang berlaku, maka disarankan untuk pembatalan atau pemutusan khitbah tersebut dilakukan secara baik-baik dan hekdaknya disertai alasan yang logis dan masuk akal. Sehingga pihak yang diputuskan tersebut tidak balik membenci bahkan sampai dendam, dan diharapkan tetap terjalinnya ukhuwah islamiyah dan persaudaraan diantara kedua belah pihak.
Wallahu ‘alam bishowab…

Oleh Novia Elok Rahma Hayati (Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI))

Sholihah Artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here