Percikan api rudal yang ditembakkan dari Damaskus, Kamis (10/5).

Sejak Presiden AS Donald Trump menarik diri dari Perjanjian Nuklir Iran atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) yang diteken pada 2015 silam, situasi di Timur Tengah, khususnya di Suriah, semakin membara. Bagi AS dan Israel, Suriah adalah markas militer Iran. Dampak dari pengunduran diri Amerika dari perjanjian tersebut, AS bakal kembali menjatuhkan sanksi ekonomi atas Teheran.

Kendati sekutu AS di Eropa belum mengambil keputusan apakah akan mendukung kebijakan Presiden Trump, AS dan Israel diketahui memang tengah mencari-cari celah untuk menginvasi Iran, tepatnya melalui Suriah yang kini dianggap telah menjadi sekutu Iran di bawah kepemimpinan Bashar Al-Assad.

Pada Kamis (10/5), Iran Corner menyebut puluhan rudal telah diluncurkan dari wilayah Suriah yang menyasar pertahanan militer Israel di Dataran Tinggi Golan. Dengan segera Israel menuduh Iran, atau Brigade al-Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

“Pasukan Iran di Suriah telah melepaskan rudal-rudal itu dengan sasaran posisi-posisi militer Israel di Golan,” kata Iran Corner mengutip reporter radio Israel.

Dilaporkan, posisi-posisi militer Israel yang mendapat serangan adalah pusat pemantauan teknis dan elektronika, pusat perbatasan rahasia dari Unit 9900, markas pemantauan komunikasi, landasan helikopter, stasiun-stasiun komunikasi dan penyiaran, dan pusat pemantauan unit peluru kendali berakurasi tinggi untuk operasi darat.

Israel dilaporkan membalas serangan itu dengan menembakkan dua mortir yang menyasar kota al-Baath di Quneitra, Suriah selatan. Sebelumnya, Selasa malam Israel menembakkan dua rudal di kawasan al-Kiswah, Damaskus namun berhasil dicegat oleh pertahanan udara Suriah.

Reuters melaporkan Gedung Putih mendukung penuh upaya Israel melakukan penyerangan dan perlawanan terhadap serangan rudal dan roket yang bersumber dari Suriah. AS menilai, Israel wajib membela diri.

Israel tampaknya akan menjadi sangat sibuk dalam membendung eskalasi di kawasan sebagai dampak dari mundurnya AS dari Perjanjian Nuklir Iran. Sejauh ini Israel menyebut sudah ada seikatr 20 roket Grad dan Fajr Iran ditembakkan ke Datara Tinggi Golan. Kawasan ini memang terus memanas setelah Israel merebutnya dari tangan Suriah dalam perang pada 1967 silam, sebuah upaya aneksasi yang tak pernah diakui internasional. ISrael mengklaim 20 rudal yang ditembakkan tersebut tak satu pun mencapai sasaran karena berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome.

Israel sendiri menegaskan akan terus melakukan serangan terhadap kekuatan Iran, terutama di Suriah. Media pemerintah Suriah sendiri melaporkan Israel telah menambakkan lusinan rudal dan menghantam stasiun radar, pertahanan udara Suriah dan tempat penampungan amunisi yang bisa membuat eskalasi konflik akan merembet ke Iran. Suriah bahkan telah mencium gelagat tak baik Israel untuk kembali membuat fase baru perang di Suriah pasca jatuhnya ISIS dan kelompok teroris yang selama ini menjadi ‘tentara bayaran’ AS dan Israel.

Dengan kata lain, AS dan Israel telah memulai babak baru perang di Timur Tengah pasca hancurnya ISIS dan kelompok teroris yang disokong kedua negara sekutu tersebut selama ini. Suriah akan menjadi medan perang AS dan Israel untuk menginvasi Iran.[]

Sumber: Nusantaranews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here